Wati Dan Tukang Kebun Mang Parno

Oleh wappersejati Pada 25 Oktober 2015 - 02:20

Siang itu entah kenapa, Adhi suami Wati membawa seorang laki-laki yang agak sedikit tua ke rumahnya. Rupanya Adhi menerangkan bahwa dia tadi telah ditolong oleh laki-laki yang bernama Parno ini di saat ia hampir saja menjadi korban perampokan. Tetapi karena adanya bantuan dari Parno, ia berhasil terhindar dari upaya para perampok itu.

Parno adalah seorang bekas narapidana yang telah lama malang melintang di dalam dunia kejahatan. Setelah ia keluar dari Nusa Kambangan, ia mencoba untuk sadar dan kesana kemari mencari pekerjaan yang tidak bertentangan dengan hukum. Namun dalam usahanya mencari pekerjaan itu, tanpa diduga ia melihat adanya upaya perampokan yang menimpa Adhi, yang nota bene suami Wati yang juga merupakan seorang artis penyanyi. Atas jasanya itu, Adhi mengajak Parno untuk bekerja dengannya sebagai penjaga rumahnya yang tergolong mentereng itu. Parno hanya bertugas menjaga lingkungan kebun dan memberi makan anjing kesayangan Adhi. Parno dipersilakan tinggal di kamar belakang yang khusus buat para pembantu.

Wati Dan Tukang Kebun Mang Parno

Di rumah Adhi hanya ada seorang pembantu yang sudah tua yang bertugas sebagai tukang masak dan mencuci. Sekian lama tinggal di rumah itu, Parno merasa kerasan dan telah menganggap seluruh anggota rumah itu sebagai keluarganya juga. Ia amat suka bekerja, dan dengan itu ia sedikit demi sedikit dapat kembali ke lingkungan yang baik-baik. Namun sebagai seorang laki-laki yang hidup seorang diri tanpa keluarga, ia merasakan hampa, apalagi seumurnya sudah pantas memiliki seorang cucu. Namun karena Parno waktu mudanya terkenal dengan kejahatannya, maka ia tidak sempat untuk hidup layak beristri. Saat itu ia hanya melampiaskan nafsunya kepada para pelacur. Dan jika ada korbannya yang cantik, maka ia tidak segan-segan untuk memperkosanya.

Sebagai laki-laki, ia sudah terlambat untuk memulai kehidupan normal, apalagi masa lalunya yang amat kelam. Suatu saat ia sangat ingin sekali merasakan kehangatan tubuh seorang wanita, apalagi ia setiap hari melihat majikan wanitanya amat cantik dan menggiurkan, namun ia masih merasa sungkan kepada Adhi, yang telah berjasa kepadanya. Dalam lamunannya ia sering berkhayal untuk dapat tidur dengan Wati yang ia rasa sangat menggiurkannya.

Langkah pertama, ia berusaha menyembunyikan perasaan hatinya, namun kedua anak Wati itu telah amat dekat dengan Parno. Parno pun dengan cara itu berusaha untuk mencuri pandang ke kamar Wati dengan pura-pura mengajak bermain kedua anaknya. Namun saat itu hanya ada Tristan si pembantu tua satunya. Suatu hari saat Adhi tidak ada di rumah karena adanya acara konser di luar negeri (Wati tidak ikut), saat itulah yang paling ditunggu-tunggu Parno.

Malam itu hujan sangat lebat dan di rumah hanya ada Wati dan kedua anaknya, sedang Parno dari siang tadi hanya mencoba upaya bagaimana menaklukan Wati. Akhirnya ia ingat tentang ilmu yang diajarkan sesama narapidana di Nusa Kambangan dulu dalam mempengaruhi naluri sex wanita.

Malam itu tepat malam Jumat kliwon, Parno di kamarnya melafazkan mantera-mantera untuk membangkitkan naluri sex Wati dari kamarnya dengan membakar kemenyan. Saat yang bersamaan, di kamar, Wati tidur dengan gelisah dan ia bermimpi telah mengadakan hubungan sex yang mengebu-gebu dengan seseorang yang ia tidak kenal jelas. Di luar rumah, cuaca hujan dengan derasnya membuat ia terbangun, dan ia keluar kamar melihat kamar anak-anaknya. Ia melihat mereka telah tidur semua.

Kemudian ia berjalan ke belakang dan sampailah ia di dapurnya. Di situ ia duduk sambl merenungan arti mimpinya.
“Aneh.. kok aku mimpi sedang bercinta dengan Parno..? Ehh ada apa ini..? Gila..” gumannya.
Lalu ia meminum segelas air yang ia ambil dari lemari es, kemudian ia berjalan ke kamar belakang. Ia merasa khawatir, sebab saat itu di luar hujan dan diiringi suara halilintar yang keras. Ada perasaan takut di dalam dirinya.

Di saat yang bersamaan, Parno keluar dari kamarnya untuk melihat bagaimana pengaruh dari materanya itu. Dengan kaget ia melihat Wati yang menggunakan pakaian tidur sutranya masih duduk di dapur sambil minum air dingin. Saat itu Wati juga menoleh ke arah Parno.
“Ooo.. ada apa kok Mang Parno blon tidur..?” Wati bertanya.
“Ooo.. saya mau buang air kecil dulu, Bu..” jawab Parno.
“Nanti setelah dari WC ke sini dulu ya Mang.., bicara dulu ya..? Soalnya mata saya tidak mau tidur nich..” kata Wati ke arah Parno.
“Ya.. Bu..” jawab Parno sambil berlalu.

Di dalam WC Parno merasa senang, sebab sebentar lagi ia akan dapat merasakan kehangatan tubuh nyonya majikannya yang putih mulus itu, sebab manteranya telah berpengaruh kepada Wati. Tidak lupa ia melafazkan mantera yang lain untuk membuat Wati lebih pasrah kepadanya. Sebagai laki-laki yang telah berumur 69 tahun, ia amat antusias untuk menguji seberapa kuatnya ia dalam melakukan penetrasi saat bercinta.

Sesampainya di ruang tengah yang hanya dibatasi meja kecil, Wati telah menunggu Parno di situ.
“Ada apa Ibu memanggil saya..?” tanya Parno pura-pura tidak mengerti.
“Begini, saya amat takut dari tadi, perasaan saya tidak enak dan di luar juga badai seperti ini..” jawab Wati.
“Ooo cuma itu nggak usah kawatir deh Bu.. kan di rumah ada saya, dan saya pasti bisa menjaga Ibu..” jawab Parno menerangkan.
Sambil berdiri ke arah jendela, Wati mengintip ke luar halaman rumahnya, di luar tampak angin disertai hujan deras mengguyur bumi.

Dengan ekor matanya, Parno sejurus melihat tubuh dan batang paha Wati yang aduhai itu. Dilapisi baju tidur yang memperlihatkan lekuk tubuh Wati, mengundang nafsu Parno. Kemudian Wati duduk kembali ke sofanya, dan saat itu kembali Parno melihat sosok tubuh mulus di depannya amat mengundang birahinya sebagai laki-laki.

“Mang Parno.. bagaimana jika malam ini Mang Parno tidur di atas saja di kamar saya, karena saya amat takut..” kata Wati, “Begini maksud saya, jika tidak akan mengganggu Mang Parno tidur..?” lanjutnya.
“Nah begini saja Bu.., saya tidak ingin nanti suami Ibu berburuk sangka pada saya, bagaimana jika Ibu saja tidur di kamar saya, dan saya di bawah dipan saja..” jawab Parno pura-pura tidak ingin membuat curiga Wati.
“Yah.. kalau begitu baiklah..” jawab Wati.

Begitu Wati masuk kamar Parno, lalu Wati langsung merebahkan tubuhnya di dipan Parno, sedang Parno sambil berdecak nafsu mengambil tikar. Ia ingin tidur di bawah ranjang saja. Ia lalu mementangkan tikarnya, lalu ia tiduran di bawah ranjang itu, sedang Wati tidur di atas ranjang Parno. Lalu Parno tidak merasa nyaman, ia pindah ke atas ranjangnya karena bagaimanapun udara di luar amat dingin, dan di dalam dirinya sedang berkecamuk nafsu yang ingin dituntaskan ke tubuh Wati.

Wati mencoba untuk tidak membuat Parno merasa dipunggungi.
Lalu ia menghadap Parno dan berkata, “Mang.. apa Mang Parno terganggu sama saya..?”
“Ooo.. tidak..” jawab Parno.
“Bu, saya rasa apa Ibu tidak canggung tidur seranjang dengan saya, sebab saya biasa tidur buka baju Bu..” kata Parno.
“Ooo.. tidak.. silakan.. kalau itu kebiasaan Mang Parno..” jawab Wati.

Kemudian Parno membuka bajunya, dan ia hanya memakai celana pendek dan ditubuhnya tercantum berbagai macam tato saat ia di penjara dulu. Kemudian Parno merebahkan badannya di samping Wati. Saat itu Wati belum juga dapat memejamkan matanya. Dengan posisi berhadap-hadapan dengan Parno, secara tidak sengaja tangan Parno menyentuh payudara Wati yang montok itu, dan Wati hanya membiarkan saja kejadian itu. Parno yang telah tanggung itu lalu mencoba meremasnya, namun Wati hanya memejamkan matanya. Dengan tindakan itu, Parno merasa mendapatkan kesempatan untuk bertindak lebih jauh lagi.

Dikulumnya bibir merah Wati dengan cara yang buas, maklum ia sudah lama tidak merasakan wanita. Lalu tangannya terus bergerilya di sekitar daerah terlarang tubuh Wati. Lalu ia buka penutup dari baju tidur sutra Wati itu, dan terpampanglah bahu putih mulus. Lalu mulut Parno turun ke daerah payudara Wati, sambil dijilat ia gigit ujung payudara montok itu. Wati hanya diam menikmati tindakan Parno itu. Meskipun Parno telah mendekati usia uzur, namun dalam soal foreplay ia amat mahir. Lalu seluruh pakaian yang melekat di tubuh Wati ia tanggalkan semuanya, dan terlihatlah sebatang tubuh mulus yang siap untuk dinikmati oleh Parno.

Dengan hati-hati Parno lalu meremas dan memanaskan nafsu Wati dengan mengorek-ngorek lubang sorgawi Wati. Lalu ia jilat klitoris yang ada di antara belahan vagina Wati dengan lidahnya. Wati histeris. Sampai saat ia telah berputra dua, belum pernah suaminya Adhi bertindak seperti itu, dan baru Parno lah laki-laki lain yang dapat menjamah daerah terlarangnya. Lalu Parno memasukkan penisnya yang dari tadi tegak menantang di balik celana dalamnya. Ia keluarkan dan masukkan ke dalam mulut Wati untuk dimainkan Wati.

Wati amat takjud, seumur Parno masih ada penis yang dapat tegak berdiri seperti itu. Lalu dikulum dan dikocok seluruhnya, dengan telaten ia jilat mulai dari kepala helm itu sampai batangnya habis di dalam mulutnya. Kira-kira 20 menit permainan itu berlangsung, masing-masing belum ada yang terkalahkan, sedang di luar hujan semakin deras dan diiringgi angin keras, namun permainan belum juga berkesudahan. Akhirnya mereka bersama-sama menyemburkan air sorgawinya di mulut masing-masing, sebab saat itu mereka masih dalam posisi 69.

Kemudian Wati yang telah merasa letih itu masih dibangkitkan birahinya oleh Parno. Wati awalnya memohon untuk menundanya sampai esok, namun Parno tidak mau dan kembali penisnya tegak berdiri. Lalu ia buka batang paha Wati yang putih mulus itu. Dimasukkan penisnya yang cukup panjang itu ke dalam vagina yang telah basah itu. Wati tidak mempunyai cukup waktu untuk menolak, ia hanya pasrah, dan dengan buasnya Parno memaju-mundurkan penisnya di dalam vagina Wati berulang-ulang. Diakuinya meskipun sudah mempunyai dua anak, vagina Wati masih sangat rapat dan menjepit jika penisnya masuk.

Kurang lebih 15 menit ia berulang-ulang maju mundur dalam vagina Wati. Lalu Parno memuncratkan air maninya ke dalam vagina itu sambil mengangkang. Ia tindih terus Wati, dan akhirnya ia rebah di sebelah tubuh mulus milik Wati yang telah basah oleh keringat birahi mereka berdua. Permainan itu terus berlanjut sampai pagi, dan Wati merasa benar-benar puas atas permainan Parno yang meskipun sudah tua tapi dalam bercinta patut diacungkan jempol, tidak seperti suaminya Adhi yang cepat loyo.

Sejak kejadian itu, hubungan Wati dengan Mang Parno tukang kebunnya terus berlanjut saat Adhi tidak ada atau sedang ada acara. Sebagai seorang laki-laki yang telah bebas dari rasa takut, Parno tidak terlalu khawatir, sebab ia memiliki bermacam cara untuk menundukkan Wati. Apalagi Adhi, majikannya yang amat percaya padanya.

TAMAT

Wati Dan Tukang Kebun Mang Parno kalau anda suka postingan ini silakan bookmark site ini Ceritamesum.kentu.netjangan lupa dishare juga di twitter dan facebook dengan menekan link dibawah.


Kategori: Cerita Mesum Setengah baya, Cerita Sex Umum,
Label: wati dan tukang kebun mang parno

Belum ada komentar